Skip to main content

Posts

Dua, Dua Ribu Dua Puluh

Kami berpura-pura memejam di tengah kenyataan penuh sadar, Sepenuh-penuhnya kami memendam, Dalam-dalam menjemput nelangsa terdalam, Ragaku menghujam. Kami berbalik arah, Memutar poros takdir, Akankah naif jadi substansi yang satu-satunya hadir? - S.

Satu, Dua Ribu Dua Puluh

dadaku sesak dipenuhi tanda tanya, resah bagaimana hari esok datang membawa jawab lewat sebuah peristiwa caranya mungkin mengejutkan, tapi terpenting ialah ragu yang terpecahkan aku harus melawan, terus melawan hingga ia tak lagi merajalela dari kepala, lalu merasup ke jiwa semoga patahku jadi sebuah rangkai sesuatu, yang menyatu tanpa lelah waktu - S .

Aku, akut, takut

Sepertinya benar dugaanku, aku dilahirkan sebagai perempuan yang penuh dengan rasa takut. Maka dengan pasti, komitmen dan konsistensi adalah hal yang juga dilingkupi oleh rasa takutku. Lalu, apakah dengan bersama kamu artinya aku sudah berani? Tentu saja, tidak. Justru, aku menganggap tingkat takutku bertumbuh. Aku sering berkata dalam hati, kamu mungkin tidak bisa melenyapkan rasa takut itu, tetapi setidaknya kamu bisa menjadi teman yang ramah bagi rasa takutku, atau sekurang-kurangnya, kamu tidak menciptakan ketakutan baru untukku. Mungkin, rasa takutku terkesan menyebalkan, tetapi juga tanpa kamu sadari, aku ada bersama dirimu saat ini karena ketakutanku. Pertanyaan-pertanyaan kecil semacam, "Bisakah aku membuatmu terus bertahan denganku?", "Bisakah nanti duniaku dan duniamu bisa terjalin dengan baik?" adalah dua tanda tanya sederhana yang dilatari oleh ketakutan dan terus mengantarku bersamamu hingga kini, dan harapku selalu sampai nanti yang tak dibatasi. Bersa...

Em/r(osi)

Aku adalah segala emosi yang tak bertuan Sekian cara ku coba tuk meredam, apalah daya, sanggupku hanya memendam Tanda tanya di kepala ini terus membungkam, menelusup jiwa yang kian geram Asaku seperti mati dibakar diriku sendiri Aku bagai ditunggu pintu-pintu pilu yang terbuka oleh amarah yang menderu Sungguh, inginku hanya reda Aku lelah hal ini terus singgah Lantas, sanggupkah engkau meniup api yang tak bercahaya ini? Dari tengah malam ini, S.

Hingar Dengar

Apa yang dilakukan ibu di rumah dengan aku di Ibu Kota ternyata tidak jauh berbeda. Kami memiliki kegiatan yang sama, yaitu menjadi pendengar orang lain atas ceritanya. Kami tak pernah mengeluh dengan apa yang diceritakan oleh mereka, yang kami pun sebenarnya belum lama mengenalnya. Kernyit di dahi terkadang ada, tetapi anggaplah itu sebagai gurat kepedulian. Aku sebenarnya hampir bingung ketika satu per satu dari mereka menceritakan apa yang selama ini mereka alami, cerita besar di dalam hidupnya, atau bahkan aib sekalipun. Respon bingungku hanya berlangsung seketika dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada mereka yang telah bersedia bercerita. Namun, aku kini tidak lagi bingung karena di depan teras rumahku, ku temukan percakapan sepasang ibu rumah tangga sedang bercengkrama. Pihak pertama dengan jelalatan mulutnya bercerita, sedang pihak kedua, menyiapkan telinga dengan apa adanya bagai sudah terbiasa dengan hadirnya. Tentu saja, pihak kedua itu adalah ibuku sendiri. Sua...