Skip to main content

Posts

Kala Tanya

apa yang sedang kita bicarakan? api semakin menjalar mundur, himpitan di dua jemarimu perlahan mengendur apa yang sedang kita bicarakan? sedang pikiranmu saja masih terpenjara stigma masa lama apa yang sedang kita bicarakan? apakah kita tak berhak berbahagia tanpa sebelumnya bertemu nestapa? apa yang sedang kita bicarakan? dinding itu menggerutu, kepalku kian beku apa yang sedang kita bicarakan? sudah puas bergeming dengan hening? - S.

Bukan Titik

pada suatu waktu yang hanya berjarak sejengkal dari tangisku sekarang, ada harapan karam diterjang sebuah ambisi yang enggan berpulang. ia masih ingin berlayar meskipun lelahnya kian mengakar. andai isi kepalaku tak berlomba memutar ketakutan, air pasang nan jauh di sana lantas tak membuatku segera sesak. aku bak seorang pengungsi di dalam diriku sendiri. aku ingin menelanjangi semua rambu, bersetubuh dengan belokan tajam, lalu menggenggam erat mimpiku pulang. hari ini, aku memang masih punya ruang: untuk bersenang, mengenang. tapi tidak ada tenang yang bertaut di sana. titik-titik lengang seolah hanya huruf konsonan yang terpuruk kesepian. aku sedang tidak berbicara tentang mematahkan ranting atau sekadar menyatukan puing dan bukan bagaimana nanti dinginnya kakiku sampai dalam pijakan terakhir. hebatnya, aku kerap menggusur takdir, pura-pura tak mau semuanya berakhir padahal telah lama berpapasan dengan akhir itu sendiri.  waktu tak pernah mengenal kata renta, dan api di sana tak ...

Air itu Bernama Waktu

di ambang pintu, deru tubuh menyala. deras ingatan perihal lakumu tanpa aba-aba, sambutku seadanya. puing-puing kata terbenam di rahang, kebekuan menyeruak lebih jerit, melewati genggaman kendali. getir memelik, setara langit memeluk muram pijar sekitarnya. menoleh ke depan, digulung canggung. saling sekarat menyimpan? saat semua ini kau baca, jelaga tatapmu ialah sepahit-pahitnya sesal di rongga dada. tak pernah kubahas, terkutuk sebatang kara.  biarkan aku menyelam, dalam. agar kau ingat bahwa dirimu tak pernah benar-benar mengalir sendiri. masihkah ada di sana? - S.

Catatan dari Dua Puluh Dua

detik-detik yang sedang berjalan menuju pukul nol-nol nanti ialah sisa angka yang dapat disesap di usia dua puluh dua tahun ini. jika boleh mengamati ke belakang, satu tahun terakhir ialah perjalanan yang cukup panjang, perjalanan yang teramat dalam karena aku dapat lebih menyadari diriku sendiri di saat sebelumnya selalu mencari di mana diri ini. aku sedang tidak ingin menimbang kepahitan atau manisnya, sebab aku tidak butuh tahu mana yang paling tinggi kadarnya. bagiku, semua rasa hadir untuk menyeimbangkanku sebagai manusia. tahun ini merupakan petualanganku untuk merasakan seutuh-utuhnyanya apa yang terjadi. belajar untuk tidak membelakangi takdir, pun menafikan diri dari apa yang seharusnya dilewati dan yang sejauh ini aku temui. tangan Tuhan diperpanjang lewat beragam peristiwa dan sosok yang tak diduga awalnya. banyak yang tak sesuai nalar untuk menyentuh nurani, serta ada pula yang terjadi tanpa permisi terlebih dahulu pada hati, ketika di sisi lain sebenarnya hal terse...

KENA(PA)STI?

Ada banyak hal rentan yang diam-diam merangkul Ada banyak bunyi yang sayup terdengar tapi tak terjamah suaranya Kita sejajar tapi terangkum dalam beda peristiwa Saling jengah tapi tak mengerti apa yang dirasa Sejatinya, kita memang senang bersandar pada hal-hal yang tak terbaca Lalu, mengapa tak sungkan memaksa takdir merapal kepastian setiap harinya? - S.