Skip to main content

Lalu, gimana?


Terlalu egois buat gue kalau tetap mempertahankan sesuatu yang gue tahu itu bukan hak gue. Terlalu memadatkan kehendak yang tidak dikehendaki. Pada kenyataannya, di dunia ini bukan cuma tentang gue; bukan hanya gue yang punya perasaan.

Lagipula, rasa senang itu ada untuk apa, sih? Gue bukan nyaman sama penderitaan, tetapi gue tahu kalau penderitaan yang nggak diinginkan orang kebanyakan itu, nggak punya kecenderungan berkonotasi negatif. Justru karena kepedihan tersebut, gue jadi 'terbangun’.

Oh iya, pedih itu wajar, kok. Luka yang lagi disembuhin pasti ada efek kayak gitu. So, gue bukan lagi di tahap untuk mencoba menikmati, tetapi kenikmatan itu secara instan ada karena itu alamiahnya segala hal. Namun, sering kita menyangkal karena selalu terstagnan sama perspektif 'kewajaran’. Sesungguhnya, tidak wajar itu adalah sesuatu yang wajar (?)

Ok, back to the topic.. Betul kalau ada yang bilang, laki-laki itu punya porsi untuk memilih, dan perempuan punya porsi untuk menentukan. Dan sekarang, saatnya gue menentukan arah hidup gue. :)

Comments

Popular posts from this blog

Anotha Kilometers

Your arms feels so bold Allied with the cold You never asked the permission Yet I never asked the questions Thriving in a bliss Not worry if something will be missed Even though it turns out just a fiction I cherish it as the fact, but with a blind vision - S

Satu, Dua Ribu Dua Puluh

dadaku sesak dipenuhi tanda tanya, resah bagaimana hari esok datang membawa jawab lewat sebuah peristiwa caranya mungkin mengejutkan, tapi terpenting ialah ragu yang terpecahkan aku harus melawan, terus melawan hingga ia tak lagi merajalela dari kepala, lalu merasup ke jiwa semoga patahku jadi sebuah rangkai sesuatu, yang menyatu tanpa lelah waktu - S .

Em/r(osi)

Aku adalah segala emosi yang tak bertuan Sekian cara ku coba tuk meredam, apalah daya, sanggupku hanya memendam Tanda tanya di kepala ini terus membungkam, menelusup jiwa yang kian geram Asaku seperti mati dibakar diriku sendiri Aku bagai ditunggu pintu-pintu pilu yang terbuka oleh amarah yang menderu Sungguh, inginku hanya reda Aku lelah hal ini terus singgah Lantas, sanggupkah engkau meniup api yang tak bercahaya ini? Dari tengah malam ini, S.