Skip to main content

Anotha Kilometers

Your arms feels so bold

Allied with the cold

You never asked the permission

Yet I never asked the questions


Thriving in a bliss

Not worry if something will be missed

Even though it turns out just a fiction

I cherish it as the fact, but with a blind vision


- S

Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Thank.S! Ey, ur name reminds me of the person who ever told me that he really likes blues music. Iz dat youw? 👀👀👀

      Delete
    2. Hmm, mention to someone who likes blue notes, although he wasn't good on it, nor is it his pastime, just a sigh stealer of blues. He is

      Delete
    3. Ah, okay. Time to waving hello again~ All those kilometers back then are worth it, right? Probably one day we can try a little more

      Delete
    4. it will never, Too mucH unexpected by cArelessNess and tracKed by a trace. where’S the camouFlage to hide. in fact, why is it sO bRight and striped.

      hold on.

      this is THE last.
      a roar.. the 🐅’s saDness doesn't look like An 🐘 cries.
      however.. preY on plantS with their fangs can be proud, but no need to grin.
      👋😊

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dihabisi Nyali

Kita selalu pergi, tapi tidak pernah pulang. Jarak kita tidak pernah lebih, juga tidak pernah kurang. Pikiranmu, pikiranku, jika sama sempitnya, maka sama luasnya. Saling singgah sebentar, melebur apa yang dipendam. Dalam terik tanda tanya itu, kukira kau yang menaungi jawabnya. Bukan. Dan mungkin tidak akan. Sama seperti yang silih-berganti, kau hanyalah transportasi untuk melatihku pergi.  Sementara jika kita masih di sini dan masih selalu pergi, semua akan sama seperti pertama kali: rasaku dibiarkan hidup, pun padam sendiri.  Selamat datang untuk nyala tanpa nyali yang dibuat mati berkali-kali, - S

Menghidupi Kembali

Berkaca pada retak langit dini hari tadi yang tak bermaksud mengutuk pagi, mengecualikan seteru karena semua yang terjadi tak pernah berwajah tunggal. Bahkan jika memang tidak, kekeliruan hanyalah apa yang bersarang di kepala. Menghantam dan melimpahkan—diri sendiri ataupun orang lain—hanya akan mengisolasi hak yang dimiliki. Menyamarkan apa yang sungguh kita ingin dan butuh. Sudah barang tentu, kita punya kemampuan untuk mencerna, tetapi polusi yang tidak relevan menjadikan apa yang seharusnya dilampaui ikut terpinggirkan. Belakangan kita jadi tahu bahwa kita bukan mencoba untuk menerjemahkan pikiran, melainkan mengeksploitasinya cuma-cuma. Di antara maksud baik ini, kita bertanya: Apa rasanya jadi dirimu? Apa rasanya jadi diriku? Mendera, menderu, tak mau disandera. Sedang harmoni tak bisa tercipta dengan begitu saja. Sampai kapan? Mungkin sampai nanti hatimu sentuh rasa lega, sampai kau mengerti biasmu tak perlu menakar-bakar ragu.  - S

Satu, Dua Ribu Dua Puluh

dadaku sesak dipenuhi tanda tanya, resah bagaimana hari esok datang membawa jawab lewat sebuah peristiwa caranya mungkin mengejutkan, tapi terpenting ialah ragu yang terpecahkan aku harus melawan, terus melawan hingga ia tak lagi merajalela dari kepala, lalu merasup ke jiwa semoga patahku jadi sebuah rangkai sesuatu, yang menyatu tanpa lelah waktu - S .