Skip to main content

Tiga, Dua Ribu Dua Puluh

kegelisahan dibiarkan menjalang,
kian hari kian berkonstelasi,
membentuk entitas paling keruh pada nurani

suaramu terdengar lirih,
apakah yang menguar hanya pedih?

lara seakan sedang mengatur ritmenya,
untuk hadir merayakan cemas yang lama berpesta di kepala

malu-malu memahami makna,
seraya berandai agar kelak cukupnya rasa mampu membuat kami bersinggung di rotasi yang sama

bukankah persinggahan bisa berganti peran menjadi sebuah pemberhentian?

- S.

Comments

Popular posts from this blog

Em/r(osi)

Aku adalah segala emosi yang tak bertuan Sekian cara ku coba tuk meredam, apalah daya, sanggupku hanya memendam Tanda tanya di kepala ini terus membungkam, menelusup jiwa yang kian geram Asaku seperti mati dibakar diriku sendiri Aku bagai ditunggu pintu-pintu pilu yang terbuka oleh amarah yang menderu Sungguh, inginku hanya reda Aku lelah hal ini terus singgah Lantas, sanggupkah engkau meniup api yang tak bercahaya ini? Dari tengah malam ini, S.

Ada

Waktu merentang, detik demi detik nyala bintang menuntunku pulang—bermula di riuh percakapan dan terbenam di kesunyian, di antara mimpi dan nyata yang tak kenali batasnya. Meletakkan gelisah di palung terdalam, membiarkan ragu luruh menyeberangi sepasang sudut mata. Sebab takdir bukan sepenuhnya milik kita dan melawannya adalah hal sia-sia. Kini, langit bukan lagi abu-abu, selayaknya sepi yang tak lagi jadi tempat berteduh segala sesuatu. Dalam sukacita dan lintasan yang masih jadi rahasia: sentuh tanda tanya, koma, hingga titik sama-sama, - S

Kala Tanya

apa yang sedang kita bicarakan? api semakin menjalar mundur, himpitan di dua jemarimu perlahan mengendur apa yang sedang kita bicarakan? sedang pikiranmu saja masih terpenjara stigma masa lama apa yang sedang kita bicarakan? apakah kita tak berhak berbahagia tanpa sebelumnya bertemu nestapa? apa yang sedang kita bicarakan? dinding itu menggerutu, kepalku kian beku apa yang sedang kita bicarakan? sudah puas bergeming dengan hening? - S.