Skip to main content

Setengah Kita, Setengah Kota

Kota ini menuntut cerita, tapi kita saling curiga. Bertahan pada alasan masing-masing tanpa pernah diungkap, menelusuri setiap sudutnya dengan skema di kepala: kadang terlalu lambat, tak jarang terlalu cepat. 


Seribu alasan digali untuk menutupi bahwa sebenarnya kita tak pernah benar-benar menikmati. Kota ini yang terlalu sibuk atau hobi utama manusia di dalamnya adalah merajuk? Meski memang benar, untuk sekadar menunda sebentar, tak semua pihak punya hak. Berjalan seadanya jadi dirasa lebih lantang daripada tak bergerak ke mana-mana.


Biarlah kota ini bertumbuh apa adanya: menuang ketidakpastian tapi di saat yang sama juga mampu jadi tempat bernaung segala harapan. Sebab adanya kita dan apa-apa yang terjadi di kota ini bukan sebuah peristiwa karena telah hanyut dalam lautan kebetulan.


Kita sengaja ada untuk sengaja saling dihadirkan. Dan kita bebas berpesta di tengah rangkaian kesengajaan ini.


Barangkali, itulah cinta.


- S

Comments

  1. Dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada pernah berakhir

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Satu, Dua Ribu Dua Puluh

dadaku sesak dipenuhi tanda tanya, resah bagaimana hari esok datang membawa jawab lewat sebuah peristiwa caranya mungkin mengejutkan, tapi terpenting ialah ragu yang terpecahkan aku harus melawan, terus melawan hingga ia tak lagi merajalela dari kepala, lalu merasup ke jiwa semoga patahku jadi sebuah rangkai sesuatu, yang menyatu tanpa lelah waktu - S .

Anotha Kilometers

Your arms feels so bold Allied with the cold You never asked the permission Yet I never asked the questions Thriving in a bliss Not worry if something will be missed Even though it turns out just a fiction I cherish it as the fact, but with a blind vision - S

Em/r(osi)

Aku adalah segala emosi yang tak bertuan Sekian cara ku coba tuk meredam, apalah daya, sanggupku hanya memendam Tanda tanya di kepala ini terus membungkam, menelusup jiwa yang kian geram Asaku seperti mati dibakar diriku sendiri Aku bagai ditunggu pintu-pintu pilu yang terbuka oleh amarah yang menderu Sungguh, inginku hanya reda Aku lelah hal ini terus singgah Lantas, sanggupkah engkau meniup api yang tak bercahaya ini? Dari tengah malam ini, S.