Skip to main content

Posts

Menghidupi Kembali

Berkaca pada retak langit dini hari tadi yang tak bermaksud mengutuk pagi, mengecualikan seteru karena semua yang terjadi tak pernah berwajah tunggal. Bahkan jika memang tidak, kekeliruan hanyalah apa yang bersarang di kepala. Menghantam dan melimpahkan—diri sendiri ataupun orang lain—hanya akan mengisolasi hak yang dimiliki. Menyamarkan apa yang sungguh kita ingin dan butuh. Sudah barang tentu, kita punya kemampuan untuk mencerna, tetapi polusi yang tidak relevan menjadikan apa yang seharusnya dilampaui ikut terpinggirkan. Belakangan kita jadi tahu bahwa kita bukan mencoba untuk menerjemahkan pikiran, melainkan mengeksploitasinya cuma-cuma. Di antara maksud baik ini, kita bertanya: Apa rasanya jadi dirimu? Apa rasanya jadi diriku? Mendera, menderu, tak mau disandera. Sedang harmoni tak bisa tercipta dengan begitu saja. Sampai kapan? Mungkin sampai nanti hatimu sentuh rasa lega, sampai kau mengerti biasmu tak perlu menakar-bakar ragu.  - S

Anotha Kilometers

Your arms feels so bold Allied with the cold You never asked the permission Yet I never asked the questions Thriving in a bliss Not worry if something will be missed Even though it turns out just a fiction I cherish it as the fact, but with a blind vision - S

Setengah Kita, Setengah Kota

Kota ini menuntut cerita, tapi kita saling curiga. Bertahan pada alasan masing-masing tanpa pernah diungkap, menelusuri setiap sudutnya dengan skema di kepala: kadang terlalu lambat, tak jarang terlalu cepat.  Seribu alasan digali untuk menutupi bahwa sebenarnya kita tak pernah benar-benar menikmati. Kota ini yang terlalu sibuk atau hobi utama manusia di dalamnya adalah merajuk? Meski memang benar, untuk sekadar menunda sebentar, tak semua pihak punya hak. Berjalan seadanya jadi dirasa lebih lantang daripada tak bergerak ke mana-mana. Biarlah kota ini bertumbuh apa adanya: menuang ketidakpastian tapi di saat yang sama juga mampu jadi tempat bernaung segala harapan. Sebab adanya kita dan apa-apa yang terjadi di kota ini bukan sebuah peristiwa karena telah hanyut dalam lautan kebetulan. Kita sengaja ada untuk sengaja saling dihadirkan. Dan kita bebas berpesta di tengah rangkaian kesengajaan ini. Barangkali, itulah cinta. - S

Kala Tanya

apa yang sedang kita bicarakan? api semakin menjalar mundur, himpitan di dua jemarimu perlahan mengendur apa yang sedang kita bicarakan? sedang pikiranmu saja masih terpenjara stigma masa lama apa yang sedang kita bicarakan? apakah kita tak berhak berbahagia tanpa sebelumnya bertemu nestapa? apa yang sedang kita bicarakan? dinding itu menggerutu, kepalku kian beku apa yang sedang kita bicarakan? sudah puas bergeming dengan hening? - S.

Bukan Titik

pada suatu waktu yang hanya berjarak sejengkal dari tangisku sekarang, ada harapan karam diterjang sebuah ambisi yang enggan berpulang. ia masih ingin berlayar meskipun lelahnya kian mengakar. andai isi kepalaku tak berlomba memutar ketakutan, air pasang nan jauh di sana lantas tak membuatku segera sesak. aku bak seorang pengungsi di dalam diriku sendiri. aku ingin menelanjangi semua rambu, bersetubuh dengan belokan tajam, lalu menggenggam erat mimpiku pulang. hari ini, aku memang masih punya ruang: untuk bersenang, mengenang. tapi tidak ada tenang yang bertaut di sana. titik-titik lengang seolah hanya huruf konsonan yang terpuruk kesepian. aku sedang tidak berbicara tentang mematahkan ranting atau sekadar menyatukan puing dan bukan bagaimana nanti dinginnya kakiku sampai dalam pijakan terakhir. hebatnya, aku kerap menggusur takdir, pura-pura tak mau semuanya berakhir padahal telah lama berpapasan dengan akhir itu sendiri.  waktu tak pernah mengenal kata renta, dan api di sana tak ...